كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ LINTAS ASWAJA menyajikan petikan artikel dari bog-blog dan website-website ASWAJA sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semogga semua petikan artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Jumat, 29 Juni 2012

MATA-MATA INGGRIS DALAM SEJARAH ISLAM (Bag-4)


Pada bagian kali ini kita akan membaca bagian perjumpaan antara Mr Hempher alias Muhammad dengan Muhaammad bin Abdil Wahab dan proses pencucian otak kepada diri Muhammad bin Abdil Wahab sehingga menjadi orang yang radikal

Orang Syi’ah, menggunakan kesempatan emas ini. Pernyataan sikap menutup pintu ijtihad ini dimanfaatkan untuk menyebarluaskan pengikut mereka. Jumlah pengikut Syi’ah yang semula hanya berkisar kurang dari sepersepuluh dari orang Sunni pada akhirnya menjadi banyak dan bisa mengimbangi jumlah pengikut Sunni. Gejala semacam ini masuk akal karena ijtihad itu bak sebuah senjata. Ijtihad itu bisa memperbaiki fiqih Islam dan pemahaman akan Al-Qur’an dan hadits. Larangan ijtihad di sisi lain bak senjata makan tuan, akan mengurung pengikut madzhab tersebut dalam ruang lingkup kerangka kerja tertentu. Dan pada gilirannya penutupan pintu gerbang ijtihad ini mengesampingkan tuntutan zaman. Seandainya saja senjata yang dimiliki seseorang adalah rotan dan yang dimiliki musuh pistol, maka yang punya senjata rotan cepat atau lambat akan terpukul mundur oleh musuh. Saya pikir pemuka dari orang-orang Muslim Sunni mestinya kembali membuka ‘The gate of ijtihad’ di masa mendatang. Jika tidak mereka akan menjadi minoritas, sementara pengikut Syi’ah menjadi mayoritas dalam beberapa abad saja =>>Lanjutkan membaca di sumbernya<<=

0 komentar:

Poskan Komentar